[review] Membuat SIM C RESMI (tanpa tumbal apalagi abal-abal) – bagian 2


setelah gagal menjalani ujian teori 2 minggu lalu, maka tibalah saat yang dinantikan, yaitu ujian teori ulang kesempatan yang kedua, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ujian pengambilan SIM ada 2 jenis, yaitu ujian teori dan praktek. Ujian praktek hanya dapat dijalani jika kita lulus ujian teori.
setelah dengan persiapan yang saya dapatkan melalui google.com, beberapa blog dan juga artikel yang baik mengenai peraturan undang-undang lalu lintas, saya merasa lebih siap, apalagi ditambah dengan contoh jawaban dan kunci jawabannya.
07.00 saya berangkat dari rumah di daerah kemanggisan, tiba di Samsat daan mogot kurang lebih pukul 07.30, membayar 1500 perak untuk parkir 2 jam pertama, menitipkan helm+jaket, langsung menuju gedung utama, masuk ke dalam dan memastikan dengan menanyakan kepada petugas jaga, bagaimana cara mengikuti ujian ulang teori?, ternyata tinggal langsung masuk ke dalam kelas ujian dan mengikuti ujian ulangan dengan syarat kwitansi bukti bayar dan lembar catatan ujian I kita bawa.
saat masuk ke ruang dalam, saya bingung masuk ke kelas mana, saya perhatikan, ternyata banyak peserta ujian SIM sudah berdatangan dan naik ke lantai II untuk mengikuti ujian, saya ikut arus aja mengikuti
duduk manis di dalam kelas menunggu, lalu petugas masuk dan menyatakan ujian dipindah ke ruang sebelah menggunakan komputer, wah, senangnya, penasaran soalnya.
tapi sayangnya, saat memberikan tanda bukti kwitansi dan bukti ujian I yang gagal, saya diminta ke ruang kelas bawah untuk mengikuti ujian ulang, yang ikut ujian komputer saat itu hanya untuk peserta yang baru.
Ya sutra, saya segera ke kelas bawah, tiba pukul 08.00 di kelas yang dimaksud, tanpa ada informasi apapun, ruang kelas belum terbuka dan hanya ada 3 orang, pukul 08.30 kelas baru dibuka, dan kami menunggu kembali, karena jumlah orang yang datang belum mencapai 10 orang, 09.00 kelas mulai penuh dan petugas jaga (kebetulan ibu polwan yang galak), memulai membagikan kertas info ujian ke-2 berwarna biru – yang seperti biasa diisi dengan informasi:
  • nomor registrasi
  • nama lengkap
  • alamat
  • tanda tangan
beliau kembali memaparkan cara untuk mengisi jawaban ujian, memilih soal jawaban (yang terdiri dari 10 seri), dlsbnya.
09.30 kami mulai ujian, kali ini saya mendapatkan seri 1 dari jenis soal, kali ini soal terasa lebih mudah dan dengan cepat bisa saya kerjakan, 09.45 saya mengumpulkan lembar jawaban dan kertas lembar registrasi saya, lalu menunggu selama kurang lebih 1 jam dengan bosan..
lalu diumumkanlah pada pukul 11.00, peserta yang lulus dan segera menuju ruang praktek.
saya menunggu dengan HHC (harap-harap cemas), namun dengan penuh keyakinan bakal lulus..
ternyata setelah nama peserta terakhir yang dibacakan lulus, nama saya tidak adašŸ˜¦
what?
saat saya menerima kembali bukti kwitansi yang digabung dengan lembar hasil ujian, ternyata nilai saya 17, kurang 1 point untuk lulus.
wah, disini saya mulai curiga, kenapa saya bisa tidak lulus? padahal soal terasa sangat mudah..
saya lihat 70% peserta ujian tidak lulus, namun seperti 2 minggu lalu, ada kesempatan mengulang sekali lagi, atau jika gagal lagi, kembali 2 minggu kemudian untuk mengulangi ujian teori.
kali ini, saat memasuki ruang ujian teori, hati saya seperti tidak puas, dan mulai berpikir untuk mencoba ujian menggunakan komputer, lalu saya bertanya ke beberapa petugas disitu, petugas meminta saya menunggu dengan sabar.
lalu, tiba2 saya dipanggil untuk keluar, lalu diminta menuju loket #37 dan mendaftar ujian komputer, loh? bingunglah saya, kok ujian komputer perlu mendaftar? saya mulai curiga ini maksudnya diarahkan ke ruangan “ujian” tidak normal.
saya tanyakan,”Pak ini ujian komputer normal kan?”,
dijawab, ” Oh ya, semua ujian dan prosesnya pasti normal”.
Oke, saya ikuti saja arahannya dengan penuh kecurigaan, lalu mengetuk pintu loket #37
dan bertanya,”Pak, kalau mau ikut ujian menggunakan komputer harus daftar disini?”
petugas,”Oh iya, adik ujian apa?”
saya,”Oh mengulang pak, ujian SIM C, bisakan ujian pake komputer?”
petugas bicara gak jelas, seperti mengarahkan dan saya menangkap, ini pasti maksudnya pake cara “tidak normal”.
saya,”Loh pak, bukannya kalau ujian mengulang harusnya sama aja antara komputer dan tertulis?”
petugas,”Oh ya, tapi gak dijamin?”
saya,”maksudnya pak?”
petugas,”Kamu kan ujian tertulis 3x sebelumnya, gak ada jaminan data kamu udah masuk di komputer”
saya,”Oh gitu ya pak?” dalam hati: apa hubungannya?
saya tinggalkan saja dengan putus harapan, karena saya bertekad tidak mau pake ilmu ‘sampingan’ untuk urusan ini.
lalu, kembalilah saya ke ruang ujian ulang, saat itu, semua peserta sedang antri mengambil kertas biru tanda ujian, saya jadi bimbang, karena berpikir, apa gunanya ikut ujian teori dengan probalitas bakal gak lulus juga.
akhirnya, saya nekad keluar, lalu menuju ruang ujian komputer, ruangan tampak sepi, lalu langsung saya dekati polwan yang berjaga dan menerangkan maksud saya untuk ikut ujian via komputer, ternyata polwan tersebut menyatakan bisa dan langsung menyiapkan komputernya, aduh, bahagianya saya..
lalu, langsunglah saya duduk di depan komputer yang langsung menayangkan soal ujian #1, dan pilihan jawaban di layar a/b/c, pertama saya bingung, bagaimana menjawabnya? lalu lihat di sebelah CPU komputer ada keyboard angka kecil, lalu saya membaca soal dan memutuskan memberikan jawaban C, lalu di keyboard angka tersebut saya mengetikan angka 3 dan menekan tombol ENTER, eh, lanjut ke soal ke2
jadi ternyata, cara menjawab dengan menggunakan keyboard angka di sisi kanan komputer dan menekan enter, jika pilihan jawaban kita A, maka kita menekan angka 1 di keyboard kecil dan dilanjutkan dengan tombol ENTER.
counter waktu di sudut komputer tetap jalan, countdown dari 15 menit, dan saya menyelesaikan ujian dengan waktu tersisa 4 menit, ternyata hasilnya langsung keluar di layar dan saya lulus dengan 23 jawaban benar, saya langsung say “YES!”, soal-soal yang saya hadapi 80% sama persis dengan ujian I di pagi hari, yang saya yakini bisa lulus, disini, kecurigaan saya sedikit terbukti, sepertinya para pemeriksa jawaban ujian hanya menggunakan cara tebang pilih, dan kebetulan saya kena tebang hehehe..
nah, dilangkah ini, setelah hasil keluar, akan muncul layar untuk memasukan nomor registrasi kita, namun karena saya diminta untuk tidak memasukkan, dengan alasan hasil nilai ujian langsung terprint out di printer kecil polwan yang menjaga. lalu saya diminta keluar dan menunggu di depan loket #5.
disini, terus terang saya bodoh dan melakukan kesalahan:
  1. Nomor registrasi tidak saya masukkan di layar, kalau petugas kembali curang, saya tidak punya bukti apa-apa, karena saat ujian, tidak ada catatan saya yang melakukan.
  2. jika bukti hasil ujian sudah ada, seharusnya saya bisa langsung mengambil dan lanjut ke ujian praktek, loh? kalau hasil ujian sudah ketahuan, ngapain lagi saya harus ngendon nunggu panggilan 1 jam di loket #5?
sayangnya, saya terlalu senang, dan gak berpikir cepat, alhasil saat menunggu di ruang dekat loket#5 dibawah, sambil menikmati makan siang Rp 12.000, baru bisa mikir, ternyata saya kelaparan dan lemas sehingga gak bisa berpikir jernih.
lalu saya iseng bertanya kepada 2 petugas yang berbeda untuk mendapatkan konfirmasi, apakah saat selesai mengikuti ujian SIM via komputer, saya tetap harus menunggu sama seperti peserta ujian tertulis?
ternyata semua menjawab, harus menunggu.
what?
lah, semua peserta ujian menunggu hasil pemeriksaan, sementara saya udah ketahuan hasilnya kok?
aneh..
dasar iseng, naiklah saya ke ruang ujian komputer kembali, untuk bertanya kepada petugas polwan tadi, baru saya masuk ruangan, belum bertanya, si petugas sudah menghardik,”tunggu saja di bawah di depan loket 5 pak, nanti dipanggil untuk hasilnya!”
saya,”oh,gitu ya bu? iya deh saya nunggu..”
bah, tetap gak puas, karena sangat-sangat gak masuk akal, alasannya apa gitu loh?
masak saya harus mengalah dengan peserta ujian tertulis? bukan egois ya, tapi saya dibatasi waktu untuk segera kembali ke kantor dan bekerja, sementara waktu sudah 12.30.
akhirnya saya menyerah sambil berdoa, semoga kali ini saya benar-benar ‘lulus’ tanpa dikadalin.
dan ternyata….
saat pengumuman, saya lulus dengan nilai yang sama persis di ujian komputer.
Puji Tuhan!
ternyata petugas melakukan tugasnya dengan baik, meski dengan cara yang kurang masuk akal menurut saya.
lalu, segeralah saya menuju lapangan praktek.
menuju loket membayar 5000 untuk form ujian praktek (10 ribu untuk SIM A), Ā lalu menuju ke lapangan dan bertemu petugas penguji.
ujian praktek yang sebenarnya harus dilakukan banyak, namun petugas memberikan kelonggaran untuk hanya menguji melakukan gerakan huruf U di dalam garis berbentuk U dengan pinggiran diletakan kayu patok, ukuran ujian 3×9 Meter.
lapangan 'keramat' yang mesti ditaklukan

lapangan 'keramat' yang mesti ditaklukan

petugas meminta saya melakukan gerakan U tanpa jatuh, tanpa meletakkan kaki dan menjatuhkan kayu patok.
dengan PD saya menuju motor yang tersedia, sebelumnya disebutkan ada beberapa pilihan motor, termasuk honda supra, ternyata yang tersedia cuma 5 motor suzuki vega, oh well, apa saja yang penting bisa dihidupkan.
pertama mencoba saya gagal, karena kaki kanan menjejak tanah saat membuat huruf U, kesalahan saya, gas terlalu rendah dan kaki keburu diletakkan untuk mengimbangi.
setelah beberapa kali mencoba, saya akhirnya berhasil.
singkat cerita petugas meloloskan, lalu saya mengembalikan form berisi hasil ujian praktek ke loket yang tersedia dan menunggu dipanggil, ternyata, form tadi di entry, lalu karena centralize system, kami diminta langsung masuk ke ruang utama menunggu di loket #9 menunggu dipanggil untuk proses validasi data, foto dan tanda tangan SIM.
wah, sambil jalan menuju ruang tunggu loket #9, saya merasakan pinggang ke bawah tegang dan gak enak sekali, ternyata, ini penyebab kenapa saya gagal beberapa kali melakukan test praktek tadi, saya terlalu tegang sehingga kondisi tubuh tidak relax dalam menjalani ujian :))))
setelah dipanggil di loket #9, kami diarahkan ke loket #11,12,13,14,15,16,19, sambil masuk membawa berkas dan melakukan validasi data, foto dan tanda tangan digital sebelum SIM dicetak.
disini, kami membubuhkan nomor registrasi kami di buku yang tersedia, menyerahkan berkas, lalu menunggu dipanggil.
saat dipanggil, kami diminta mem-validasi data yang ada di layar, untuk nama, alamat dan data-data lain yang akan tercetak di SIM nantinya, lalu melakukan tanda tangan digital di layar sentuh yang terhubung dengan komputer, lalu duduk di samping komputer untuk di foto via kamera digital.
setelah selesai, kami diberikan kembali berkas yang sebelumnya diserahkan, lalu diminta ke loket #30 dan menunggu dipanggil untuk mengambil SIM yang selesai dicetak.
wah, sambil menunggu, rasanya senang dan bersyukur sekali, setelah perjuangan luar biasa, akhirnya berhasil juga mendapatkan SIM C DKI jaya dengan cara “halal”.
10 menit menunggu, saya dipanggil dan menyerahkan berkas berisi kwitansi dan kertas status ujian, lalu mendapatkan SIM C tercetak nama, foto dan alamat saya.
cihui! senangnya, lalu proses yang melelahkan selesai dan saya kembali menuju pintu keluar, di tempat parkir saat akan mengambil helm dan jaket,sambil ditawarkan oleh seorang engkoh2 untuk melaminasi SIM yang baru tersebut seharga 3000, berpikir cukup murah dan melindungi SIM C saya dari baret, persis seperti invisible shield yang saya pasang di blackberry saya hehehe..
lalu membayar parkir tambahan 3000, saya kembali pulang ke kantor dengan hati senangšŸ™‚
—————
maaf, jika tulisan diatas terlalu panjang dan melelahkan dibaca hehehe..
tujuannya, supaya anda mendapatkan feel dan look saat ingin melakukan hal “halal” yang sudah saya buktikan sendiri:-)
sorry, di lanjutan tulisan ini, saya tidak mencantumkan banyak foto, karena udah terlalu malas:-)
well, yang penting pakai mulut anda untuk bertanya agar tidak sesat dan yakinkan diri saja berdasarkan informasi yang ada.
berikut ini adalah summary hal diatas jika anda tidak ingin ber-panjang lebar:
  1. Untuk ujian ulang, karena gagal sebelumnya, tidak perlu membayar kembali apapun, hanya membawa lembar bukti kwitansi disertai lembar bukti ujian yang biasanya di-straples bersama, lalu masuk ke ruang ujian yang diarahkan dan lakukan ujian kembali.
  2. berdasarkan pengalaman, saya menyarankan agar anda mengikuti ujian via KOMPUTER, kenapa? hasil akhir langsung terlihat dan lebih efisien, namun ingat, masukan nomor registrasi anda dan dorong petugas untuk memberikan kesempatan kepada anda langsung meneruskan ke ujian praktek, jika tidak bisa? ya sudah, ikuti aja prosedur, sambil bawa bacaan, atau apapun untuk membuang kebosanan..
  3. ujian prakter SIM C, paling sulit memang melakukan ujian membuat huruf U dalam ruang terbatas 3×9 Meter yang dibatasi kayu patok, usahakan melatih diri anda sebelum datang mengikuti ujian praktek, supaya anda tidak membuang waktu terlalu lama.
  4. setelah ujian praktek dan menyerahkan form hasil uji, sambil menunggu dipanggil mending masuk ke kamar kecil merapikan rambut dan wajah anda, karena setelah itu anda akan difoto untuk SIM, ya, daripada seperti foto saya yang awut2an rambutnya gara2 ketutup helm saat ujian praktek hehehe..
  5. laminasi SIM di saat akan pulang boleh ya dan tidak, jika anda ibah membantu dan rela membayar 3000, ya laminasi saja..
  6. ongkos parkir motor, 1500 saat awal masuk, lalu 1000 untuk 1 jam pertama dan maksimal tambahan 2000 untuk waktu tak terbatas, jadi saat keluar anda harus membayar 3000 (maksimal ya), jangan membayar lebih dari itu.
  7. sediakan waktu setengah hari, saya pergi 07.00 dan baru nyampe kantor 14.00, padahal di pengumuman polisi waktu proses pembuatan SIM dari ujian hanya 2 jam, ternyata lebih.

Next target? membuat SIM A Resmi (tanpa tumbal – tanpa macam-macam..)..

stt, tantangan terberatnya? mundur parkir tanpa memajukan sekalipun mobil kita hehehe…

~ by celemotan on 28 December, 2009.

5 Responses to “[review] Membuat SIM C RESMI (tanpa tumbal apalagi abal-abal) – bagian 2”

  1. Hmmm,ternyata mang bener ada yg g beres dalam proses ujian teori y!!
    Boz,maren gw br ikutan ujian SIM C n gw jg g lulus. Niatny sih ipengen ujian ulang 2mgg lg(lbih ktny sih bisa). Nah boleh g tuh,klo gw lsgg nyelonong k atas,tuk ngambil ujian komputer.

    • boleh aja bos Ilham..
      tapi memang kudu nebalin muka ke mereka, dan belagak tahu, meskipun sebenarnya gak tahu :))
      saya ditolak 2x dibilang gak ada ujian disini, saya check aja, setiap penjaganya beda saya nekad masuk dan check lagi..
      sampai akhirnya petugas mengijinkan..
      sukses ya mas, ujian tanpa nyogok dan hemat – hati plong meskipun repot dan lelah..

  2. wah Terimakasih atas informasinya Pak, kebetulan saya juga ingin membuat SIM C. Banyak informasi yg didapat dari pengalaman Bapak, mudah-mudahan ini membantu bagi saya nantinya untuk selalu berhati-hati. Thank’s

  3. Oalah, saya kok ngenes baca tulisan anda.
    Polisi di US gajinya juga kecil, tapi kok bisa ya bikin driver license mudah dan tidak berbelit? Di kota saya yang penduduknya 75 ribu jiwa ini, polisi yang menangani pengurusan driver license cuman 2 orang. Dulu waktu saya ngambil driver license, malah cuman 1 polisi yang menangani, mulai dari registrasi ujian tulis, mengawasi ujian, hingga ujian praktik.

    It’s sad…yang diimpor dari US cuman sebangsa Idol-nya. Yang bagus-bagus semacam ini malah ditinggal.

  4. Wah, terima kasih sekali untuk sharing nya. Seandainya saya sudah baca ini dulu sebelum nyoba buat SIM halal tadi siang, tentu hasilnya bisa beda. Hari ini dapat jatah kena tebang 2 kali dan dua jebis SIM, A dan C sekaligus. Semua tes hasilnya sama, 16 di tes pertama, dan 17 di tes kedua. Agak gak masuk akal untuk punya skor persis sama dua kali untuk dua jenis SIM. Tapi enjoy aja deh karena jadi belajar dari blog ini. Thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: