Dosa dan Pelayanan


Semakin lama melayani, semakin saya menemukan betapa kegelapan dosa melingkupi hati manusia. Bukan saja melingkupi hati mereka yang belum percaya, tetapi juga mereka yang sudah percaya. Bukan saja jemaat, tetapi juga mereka yang aktif melayani, para pemimpin gereja seperti majelis dan bahkan para ‘hamba Tuhan’ yang memiliki posisi sebagai pengajar Firman Tuhan.

Di dalam kesedihan, kadang-kadang saya bertanya sendiri bagaimana gereja bisa bertahan dengan orang-orang seperti itu? Bagaimana gereja tetap bisa bertumbuh dan ada orang-orang yang menerima berkat Tuhan, sekalipun kondisi para pelayan dan pemimpinnya seperti demikian?Waktu merenungkan hal tersebut, ada beberapa hal yang muncul dalam pikiran saya:Pertama, mungkin saya memandang dengan terlalu negatif.

Mungkin betul bahwa hati para pelayan dan pemimpin gereja itu masih banyak dilingkupi kegelapan. Tetapi kalau mereka adalah orang percaya, bagaimanapun mereka bukan lagi anak-anak kegelapan tetapi anak-anak terang yang sedang terus dibentuk oleh Tuhan. Sehingga sekalipun ada bagian-bagian dalam hati mereka yang masih ‘gelap’, tetap ada anugrah Tuhan yang sedang bekerja dalam diri mereka, tetap ada bagian-bagian yang baik yang sudah dikerjakan oleh Tuhan.

Tetapi di dalam kepicikan saya, bagian-bagian yang baik itu tidak terlihat lagi oleh saya.Kedua, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk gerejaNya. Jangankan anak-anakNya yang ‘bandel’, Firaun yang tidak mengenal Tuhan pun bisa dipakai. Maka sekalipun para pemimpin gereja dan para hamba Tuhan itu tidak percaya Tuhan, dan itu sangat mengerikan, tetapi Tuhan tetap bisa memakai mereka untuk gerejaNya.

Ketiga, saya mengingat kalimat Paulus “jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (2 Kor 3:7-9). Di situ Paulus memang sedang menjelaskan perbedaan pelayanan dalam Perjanjian Lama yang hanya berupa hukum tertulis dengan pelayanan dalam Perjanjian Baru yang dikerjakan dengan kuasa Roh.

Saya tergoda untuk menganalogikan kalimat itu dengan pelayanan dalam gereja. Kalau pelayanan yang dilakukan dengan sembarangan dan dengan hati yang jahat diberkati oleh Tuhan, betapa lebihnya lagi pelayanan yang dilakukan dengan murni oleh orang-orang yang sungguh mencintai Tuhan! Walaupun ini tidak selalu berarti jumlah orang yang lebih banyak, tetapi pasti berarti berkat rohani yang lebih besar.Terakhir, makin saya merenungkan betapa sulitnya manusia memberikan hati sepenuhnya diterangi oleh Tuhan, makin saya melihat demikian pula diri saya.

Kalau melihat kegelapan dalam hati orang lain seringkali mendukakan hati saya, maka lebih mendukakan lagi ketika melihat kegelapan itu dalam hati saya sendiri. Dan saya jadi berpikir bagaimana hati Tuhan? Betapa berdukanya Dia melihat pelayan-pelayanNya seperti ini.Ah Tuhan, kasihani gerejaMu dan kasihani orang-orang yang menyebut diri pelayanMu!

posted by Jeffrey Siauw @ 9:04 AM
Taken from Jeffrey Siauw’s blog
http://jeffreysiauw.blogspot.com/

~ by celemotan on 15 November, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: